Category Archives: News

News and Update

krakatau

DSS Concert & Swara Gembira mempersembahkan:

Konser Prthvi Mata

Persembahan Krakatau untuk Ibu Pertiwi
Ciputra Artpreneur, 30 April 2019 pukul 7 Malam

Dimeriahkan oleh:
Anak Krakatau – Kinarya GSP – Orkestra Alvin Witarsa

Dapatkan tiketnya melalui www.evenative.com/krakatau2019 atau layanan publik kami di nomor 0813-1984-6086

news-pilkada

Musisi jazz Dwiki Dharmawan tidak ikut mencoblos dalam gelaran Pilkada serentak pada Rabu (27/6). Pasalnya, dia berdomisili di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang tahun ini tidak menggelar pemilihan kepala daerah.

Namun, Dwiki menyoroti pentingnya partisipasi aktif seluruh masyarakat, termasuk generasi muda, dalam Pilkada. Menurut pria 51 tahun kelahiran Bandung itu, kesadaran menggunakan hak pilih amat menentukan masa depan Indonesia.

“Pilkada merupakan proses politik yang sangat penting dan strategis dalam menentukan kepemimpinan dalam lingkup provinsi, kota, dan kabupaten, agar kita mendapatkan pemimpin terbaik,” ujarnya.

Dia mengatakan, sosok yang layak dipilih adalah yang memiliki kompetensi kepemimpinan dan bukan sekadar pencitraan. Sosok itu juga harus visioner, amanah, berakhlak mulia, bersih dari korupsi, berjiwa negarawan, dan berdedikasi tinggi melayani rakyat.

Anggota grup musik Krakatau tersebut berharap seluruh peserta Pilkada dapat bersaing dengan sehat, sportif, dan berjiwa kesatria. Dalam artian, mematuhi semua peraturan serta menjauhi semua kecurangan seperti politik uang dan kampanye hitam.

Demikian pula pernyataan yang mengandung unsur kebencian atau menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Bagi Dwiki, sangat tidak elok melakukan politisasi yang mereduksi nilai-nilai luhur agama serta berpotensi memecah-belah umat dan bangsa.

Dwiki berharap pemerintah dan aparatur negara mendukung dan memfasilitasi penyelenggaraan Pilkada sesuai tugas, tanggung jawab, dan kewenangan masing-masing. “KPU sebagai penyelenggara pun saya harapkan bisa bekerja profesional, independen, transparan, dan objektif. Memastikan seluruh tahapan dan proses berlangsung dengan demokratis, jujur, adil, tertib, dan lancar,” kata pria yang baru merilis album internasional bertajuk Rumah Batu itu.

Source :
https://www.republika.co.id/berita/senggang/blitz/18/06/27/paz8gg257-pesan-dwiki-dharmawan-di-pilkada-serentak-2018

rumah_batu-cover

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencintai Tanah Air. Seperti yang dilakukan oleh musikus kawakan Dwiki Dharmawan. Ia tetap konsisten menggemakan nama harum Indonesia di kancah dunia lewat setiap karyanya.

Keyboardist Krakatau Reunion ini selalu memasukkan unsur musik tradisional pada lagu instrumental yang diciptakan. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini bangga dengan keberagaman musik tiap daerah Nusantara.

“Saya selalu ingin agar Indonesia lebih dikenal melalui musik di dunia ini. Bhineka Tunggal Ika itu adalah potensi negara kita. Jadi ini adalah suatu pembuktian dari sebuah negara yang dikenal di dunia mempunyai keragaman budaya yang paling beragam di dunia,” ungkapnya saat berbincang dengan Ceknricek.com belum lama ini.

Di samping itu, Dwiki Dharmawan juga menganggap jika Indonesia adalah negara multi kultural yang hebat. Makanya musisi yang baru mengeluarkan album Rumah Batu ini ingin menjadikan musik Indonesia go international.

“Saya ingin memberi tahukan dunia bahwa Indonesia adalah sumber inspirasi dunia. Itu yang ingin saya tunjukkan melalui musik,” ujar Dwiki.

Jika banyak musisi mancanegara yang diagungkan oleh penikmat musik Indonesia, Dwiki Dharmawan justru diakui oleh negeri tetangga. Di situ, suami Ita Purnamasari ini merasa bangga.

“Ya saya selalu lebih bergetar lagi hati kita. Sebuah talenta imajinasi, inspirasi apapun diberikan kepada kita sebagai karunia dari illahi. Yang kebetulan diberikan kepada saya,” ucap Dwiki.

Dwiki Dharmawan menggali inspirasinya di tanah tercinta, kemudian ia bawa apa yang sudah dipelajarinya ke ajang internasional. Penjelajahannya di dalam negeri dilanjutkan sengan penjelajahan di mancanegara.

“Penjelajahan di dalam negeri ditujukan untuk mencari inspirasi bermusik. Banyak inspirasi saya yang didapatkan dari dalam negeri. Tetapi ketika saya mengeksplor ke luar memperkenalkan itu juga saya banyak mendapat inspirasi ketika saya di luar,” tutup Dwiki Dharmawan.

Source: https://ceknricek.com/a/dwiki-dharmawan-gemakan-musik-indonesia-kancah-dunia/1215

rumah_batu-cover

Dwiki Dharmawan mengajak penikmat musiknya berjelajah lewat album terbarunya bertajuk Rumah Batu. Banyak eksplorasi dan inovasi yang dilakukan oleh Dwiki pada album berisi 8 track ini.

Rumah Batu merupakan album ketiga Dwiki Dharmawan yang berkolaborasi dengan MoonJune Records. Dua album sebelumnya bertajuk So Far So Close dan Pasar Klewer, yang sukses menarik perhatian internasional juga proyeknya dengan salah satu label musik kenamaan di New York tersebut.

“Dengan MoonJune saya akan kembali merilis album tepatnya di bulan Juni, Dwiki Dharmawan Rumah Batu. Ini merupakan kolaborasi ketiga dan sebenarnya sudah kami rekam secara live di La Casamurada Studio di Barcelona, Spanyol pada tanggal 15-16 Mei 2017 di spring tahun lalu,” ucapnya saat berbincang dengan Ceknricek.com di Studio Dwiki Dharmawan Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (29/5/2018).

Dwiki Dharmawan kembali berkolaborasi dengan MoonJune Records, karena memang sudah kontrak untuk bekerja sama pada empat album. Tahap pertama sudah dijalankan pada tahun 2015 lalu lewat album So Far So Close, sampai nanti tahun 2019 untuk album terakhirnya.

Musisi Internasional

Dwiki Dharmawan menggandeng sejumlah musisi internasional di album Rumah Batu. Hat tersebut dilakukan guna meramu musik dengan sentuhan warna baru, dari yang sudah pernah ia garap. Yang unik, ini merupakan album live record.

Musisi yang digaet Dwiki Dhawmawan adalah Asaf Sirkis (drum) dari Inggris, lalu ada pemain bass elektrik legendaris, sang maestro asli Spanyol bernama Carles Benavent, didukung oleh bass akustik dari Inggris, Yaron Stavi, serta gitaris Perancis berdarah Vietnam, Nguyen Le.

“Saya selalu rekaman secara live disela-sela perjalanan saya di belahan dunia manapun ketika saya sedang tur musik. Saya menerapkan seperti itu. Adapun pemilihan musisi sesuai dengan kebutuhan dan karakter musikalnya,” kata Dwiki Dharmawan.

Pada album Rumah Batu, musisi 51 tahun ini sedang membutuhkan pemain gitar yang memiliki sentuhan rock yang kuat, namun juga punya sound effect dengan spektrum ambience musik yang deep. Untuk pemilihan musisi pada album anyarnya, Dwiki Dharmawan juga dibantu oleh MoonJune Records. Selain mereka, ia pun mengajak musisi lokal salah satunya Dewi Gita.

“Kemudian saya membutuhkan kombinasi antara picolo bassnya Carles dan juga akustik bassnya Yaron Stavi. Karena memang karakternya disesuaikan dengan kebutuhan musikal saya,” ujar Dwiki.

Penjelajahan Musik

Karakter berbeda dari setiap musisi yang dipercaya oleh Dwiki Dharmawan tentu menjadi hal menarik. Sebab pria berdarah Sunda ini membebaskan setiap dari mereka mengeksplor musik, namun tetap sesuai dengan benang merah atau partitur yang diberikan olehnya.

“Bicara musikalnya dan terjadi lah penjelajahan musik yang tidak diduga-duga. Dari situ karena saya tidak mengikat mereka, kawan-kawan bermusik saya untuk memainkan sepenuhnya atas ide saya. Tapi saya membutuhkan energi ide improvisasi dari mereka semua, dan respon. Sehingga terjadi lah dialog musik,” jelasnya.

Ya, proses rekaman live album Rumah Batu sebenarnya sudah dilakukan pada 15 dan 16 Mei 2018 lalu. Dwiki Dharmawan dan empat musisi lain langsung bertatap muka di studio untuk menggodok musiknya, tidak memerlukan latihan sebelumnya. Cara tersebut cukup ampuh demi orisinalitas dan karya yang natural.

“Karena ini lah esensi musik yang tidak semuanya diatur dari scor musik saya, tapi saya juga di sini menggali spontanitas dan improvisasi dari mereka semua. Sehingga saling mendukung dalam pencapaian musikalnya,” tutur Dwiki.

Spesial

Yang spesial pada album Rumah Batu juga karena proses rekaman yang dilakukan di La Casamurada Studio. Sebuah rumah heritage dari sekira aba d ke-13. Tempat bersejarah peninggalan Kesultan Ottoman Turki pada zaman Sultan Muhammad.

Rumah tersebut disulap menjadi studio keren dengan ambience yang fantastis. Di sana, Dwiki Dharmawan dan musisi lain bermalam. Mereka mendapatkan pengalaman menarik, terbawa suasana pedesaan dan keindahan, sehingga tercipta nada-nada sempurna pada album Rumah Batu.

“Kita kebersamaan di situ berbagi ide musik kemudian rekaman. Malam hari kita dinner bersama, dari situ timbul ide-ide musikal yang bisa menjelajah nurani, semua dengan musik yang tercipta di situ,” paparnya.

8 track pada album tersebut memiliki durasi yang berbeda-beda. Tapi yang jelas lebih dari 3 menit, tidak seperti halnya lagu pop pada umumnya. Terinspirasi dari pengalaman pribadi Ketua Umum Yayasan Anugerah Musik Indonesia ini.

Album Rumah Batu rilis secara worldwide pada 29 Mei 2018 dan rilis fisik Juni mendatang. Track berjudul Samarkand, Kaili, Selamatkan Orang Utan, dan Rintak Rebana merupakan beberapa track yang ada pada album tersebut.

Sumber :
https://ceknricek.com/a/penjelajahan-musik-dwiki-dharmawan-di-album-rumah-batu

Dwiki Dharmawan yang menyebarkan musik perdamaian hingga ke Roma, Italia_slide

Jakarta – Satu lagu musisi Tanah Air yang membawa nama Indonesia di kancah internasional. Kali ini ada Dwiki Dharmawan yang menyebarkan musik perdamaian hingga ke Roma, Italia.
Tidak sendirian, di acara yang berlangsung pada 16 Juli kemarin, Dwiki Dharmawan juga menggandeng musisi lainnya dari berbagai negara. Dari keterangan pers yang diterima detikHOT, Selasa (18/7/2017), ada juga gitaris Kamal Musallam dari Jordania, drummer Israel Varela dari Meksiko dan bassis Alfredo Paixao dari Brasil.

Konser musik yang bertajuk ‘Jazz by the river: SOUNDS OF PEACE FROM INDONESIA’ itu digelar di sebuah klub jazz ternama di Roma. Konsep open space membuat masyarakat yang lalu lalang bisa dengan mudah menikmati suguhan dari para musisi.

Dwiki Dharmawan Foto: dok. KBRI RomaDwiki Dharmawan Foto: dok. KBRI Roma

Duta Besar RI di Roma, Esti Andayani, turut hadir pada kesempatan tersebut. “Musik merupakan bahasa universal yang dapat dipahami siapapun tanpa memandang latar belakangnya. Untuk itu, kami menghadirkan musik jazz yang kaya akan interpretasi sebagai wahana kolaborasi antarbangsa dalam menyuarakan perdamaian dan persahabatan”, ucapnya.
Dwiki Dharmawan pun mengungkapkan kepuasannya atas pertunjukan malam itu. “Sambutan positif baik dari pengunjung maupun para rekan musisi menjadikan penampilan ini sebagai penutup yang manis bagi rangkaian tur Eropa saya kali ini”, ujar Dwiki.

Roma merupakan kota persinggahan terakhir Dwiki Dharmawan. Sebelumnya, ia tampil di London, Wina, Zagreb, Munich dan Sofia dalam rangkaian tur musim panas 2017 yang dilaksanakan sejak tanggal 4 Juli 2017.(dar/tia)

Source: hot.detik.com

Indonesian Jazz Concert in The Hague full

By Roy Lie A Tjam.

The auditorium of the internationally renowned Royal Conservatorium was too small to contain the great Indonesian artist Dwiki Dharmawan and his collaborators.

Dwiki Dharmawan, is not new to The Hague, he performed here before at the North Sea Jazz Festival. The group put on a dazzling show. As Mr. Ibnu Wahyutomo, Charge d’ Affaires a.i. of the Indonesian Embassy indicated in his welcome address, Dwiki Dharma wan was to show a different Indonesia.

No batik gamelan or other traditional stuff but a contemporary Indonesia. This is exactly what happened the evening of 20 November.

The Embassy of the Republic of Indonesia in The Hague in collaboration with the Indonesian Cultural House (Rumah Budaya Indonesia/ RBI) organized “Indonesia Jazz Night” at the Koninklijk Conservatorium Den Haag, the birthplace of young and talented musical artists in the Netherlands.

In a welcoming remark, Mr. Ibnu Wahyutomo – Charge d’ Affaires ad interim of the Indonesian Embassy highlighted the flourishing musical interests and the growing number of rich talented Indonesian jazz musicians, who are known for fusing the archipelago’s rich traditional music and modern jazz instruments.

While music is as a universal language, Mr. Wahyutomo pledged to make similar events an annual event in the Netherlands. Among the popular artists who performed during the “Indonesia Jazz Night” are Dwiki Dharma wan, Towpath (guitarist), Dira Sugandi (jazz singer).

For the opening song, Dwiki Dharmawan and friends performed his song of Jazz for Freeport. Along with a talented young Indonesian guitarist Tohpati and jazz singer Dira Sugandi, they played 12 songs such as Frog Dance, Lukisan Pagi (morning painting), Whale Dancer, Bubuy Bulan (traditional Indonesian West Java song), Lamalera’s Dream, Arafura and Spirit of Peace.

Dwiki Dharmawan is an award winning musical artists and is the founder of a world famous Indonesian jazz band of “Krakatau”. Whilst being a cultural and peace activist, he launched World Peace Orchestra (WPO), which fosters social harmony and global awareness.

Tohpati, one of the many young talented Indonesian jazz guitarists and songwriter, has several recorded musical albums. Dira Sugandi, is an Indonesian singer and actress and in 2011 performed a duet with Italian tenor Andrea Bocelli during a concert in Jakarta.

During the side-lines, Indonesian young Papuans performed Sajojo Dance (Friendship Dance) as well as Indonesian students from Eindhoven played musical pieces – “New York New York” and “Love” out of Angklung instruments. Angklung is a musical instrument from Indonesia made of two to four bamboo tubes attached to a bamboo frame.

Indonesia Jazz Night filled up the Conservatorium Hall and was attended by various diplomats, Dutch officials, musicians, students and the Indonesian community in The Netherlands.

Sources:
http://www.diplomatmagazine.nl/2015/11/30/indonesian-jazz-concert-hague/

The 3-d edition of the International Jazz Festival in Uzbekistan 2017 full

The 3rd edition of the International Jazz Festival in Uzbekistan will be held from 30th March to 30th April 2017 under the auspices of the UNESCO Office in Tashkent. Organized by the State Conservatory, the State Jazz Orchestra named after B. Zakirov, and the Ilkhom Theatre Jazz Club, supported by the Ministry of Culture as well as a number of embassies, the Festival will feature local musicians and guests from Czech Republic, Estonia, Germany, India, Indonesia, Latvia, Switzerland and Turkey.

The Festival aims to give the opportunity to jazz musicians from Uzbekistan and abroad to celebrate this universal language of peace, cultural diversity and inter-cultural dialogue through a series of events to be held in Tashkent and other cities of Uzbekistan:
– concerts and jam session (improvisation)
– master classes
– meeting with audience

April 30 was officially designated as International Jazz Day by UNESCO in November 2011 in order to highlight jazz and its role in uniting people in all corners of the globe. The United Nations General Assembly formally welcomed this decision to proclaim April 30 as International Jazz Day in December 2012. The month of April is widely recognized as Jazz Appreciation Month.

The International Jazz Day contributes to acknowledging the power of jazz in promoting peace, dialogue among cultures, diversity, and respect for human rights and human dignity. International Jazz Day brings together communities, schools, artists, historians, academics, and music fans all over the world to celebrate and learn about jazz and its roots, future and impact.

Until this year, the International Jazz Day has been celebrated five times. The Thelonious Monk Institute of Jazz will announce the International Jazz Day 2017 Global Host City soon. Over 190 countries on all seven continents will celebrate International Jazz Day through thousands of performances and programmes. Uzbekistan joins the international community to celebrate jazz with its third edition of the International Jazz Festival in Uzbekistan, which will involve plenty of foreign guests, a variety of performances and styles, as well as a dense schedule of events. During the whole month, the festival will delight jazz fans in the capital of Uzbekistan – Tashkent, as well as in Samarkand, Bukhara and Kokand. In particular, the following musicians and bands will perform:

Press conference for the The 3rd edition of the International Jazz Festival
The opening concert of the State Jazz Orchestra named after Botir Zakirov
Germany –  jazz trio NÖRD FX
India – Dhruv Ghanekar’s Jazz Band
Indonesia – Dwiki Dharmawan World Peace Jazz Band
Latvia – acoustic guitar trio AG 3’o and singer Aija Vītoliņa
Turkey – Berkay Toprak – Yunus Muti Quintet
Switzerland – trio Where is Africa?
Czech Republic – saxophonist Michal Wróblewski
The Pop Music Chair of the State Conservatory of Uzbekistan
Estonia – singer Kadri Voorand and guitarist Marek Talts, as well as conductor and composer Siim Aimla, under whose conduct the State Jazz Orchestra named after B. Zakirov will perform.

More information about the festival is on the websites and official Facebook pages of organizers, UNESCO and participating embassies, as well as in the media.
International Jazz Day 2017: http://jazzday.com/
UNESCO Office in Tashkent Facebook page: www.facebook.com/UNESCO.Tashkent

Preliminary programme (30 March–30 April 2017, International Jazz Festival in Uzbekistan 2017)

Contact:
Daiga Bondare, E-mail: d.bondare(at)unesco.org

Source:
http://www.unesco.org/

extra_panel_band_pasar_klewer

Sunday 5th March 2017, Hall A-3, 20:45 – 22:00 pm

Indonesian renowned pianist and composer  Dwiki Dharmawan returns following his 2005 to 2016 debut at JavajazzFestival. This year Dwiki will be performing  with the even more ambitious Pasar Klewer Project.

Bassist Yaron Stavi and drummer/percussionist Asaf Sirkis comprise Dharmawan’s core trio. as well as guitarist Nicolas Meier and critically acclaimed reed multi-instrumentalist Gilad Atzmon, and Italian born singer Boris  Savoldelli .

Leonardo Pavkovic (MoonJune Records) describes keyboardist Dwiki Dharmawan as “one of Indonesia’s most prominent musicians: a cultural icon in his homeland and accomplished pianist, keyboardist, composer, arranger, performer and peace activist. A true cultural activist and ambassador of his beloved country, Dwiki has forged a very successful thirty-plus year career, performing in over sixty countries with solo and collective projects.”

Pasar Klewer manages to incorporate wildy diverse styles of music, all of it filled with great improvising. Eleven international musicians navigate these mostly dense charts, which blend the gamelan tonal system and traditional Indonesian melodies. With a career that already span three decades, Pasar Klewer is Dharmawan’s follow up to last year’s So Far So Close (also Moonjune Record). With Pasar Klewer, the keyboardist has turned in a truly original work of art

(JOH EPHLAND, DownBeat Magazine, December 2016)

5star-Review-DownBeat

Pasar Klewer

MOONJUNE 081

5-Star-Rating

 

This ambitious two- disc set from Indonesian pianist-composer Dwiki Dharmawan is an earful. Across 11 compositions, Pasar Klewer manages to incorporate wildy diverse styles of music, all of it filled with great improvising.

Eleven international musicians navigate these mostly dense charts, which blend the gamelan tonal system and traditional Indonesian melodies with the western diatonic system.
At times, the album can seem like a three-headed monster. For example,the 12-minute title track contains elements of swing, fusion and flat-out jazz; electric guitarist Mark Wingfield’s imaginative playing hearkens back to the 1970s, and later, there are voices heard as if from afar, suggesting a world –music spirit. Elsewhere, bassist Yaron Stavi recalibrates the mood to a softer, more subdued, jazzy sheen, and soon after we are stirred yet again by a new burst of energy from Dharmawa’s up tempo swinging, free-jazz piano frenzy-all of it backed by Asaf Sirkis’s forceful, spot-on drumming. It’s brilliant music that comes close to fraying at the edges,but, in the end, hold on together beautifully.
With a career that already span three decades, Pasar Klewer is Dharmawan’s follow up to last year’s So Far So Close ( also Moonjune Record ). With Pasar Klewer, the keyboardist has turned in a truly original work of art.

John Ephland

Pasar klewer :
Disc One : Pasar Klewer.Spirit Of Peace.Tjampuhan.Forest London in June (47:06)
Disc Two : lir ilir.Bubuy Bulan. Frog Dance. Life Itself. Purnama.Forest (53:00)

Personal : Dwiki Dharmawan – Piano. Yaron Stavi – Bass. Asaf Sirkis- Drum. Udu Clay Percussion,Konakol Singing – Mark Wingfield (1,4,9,11)-Guitar.Nicolas Meier(2,5,8,10)- Guitar. Gilad Atzmon- Clarinet (2,7 )Soprano Saxophone(3,8).Boris Savoldelli(4,5) Vocal. Peni Chandrarini(6)Vocal.Aris Daryono-vocal,gamelan percussion,kendang pescussion,rebab three-string violin(1,3,6).Gamelan Jess Jegog- I Nyoman Windha,Leader(3,6)

indonesia-jazz-night

London (ANTARA News) – Penyanyi Indonesia Ita Purnamasari menyanyikan Lir Ilir, tembang Jawa yang dulu digunakan Sunan Kalijaga untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa dengan iringan dentingan piano yang dimainkan Dwiki Dharmawan dalam acara Indonesia Jazz Night 2016 berhasil memukau publik di Belanda dalam konser yang diadakan di ruang konser Koninklijk Conservatorium di Den Haag.

 

Nada tinggi penyanyi asal Surabaya, yang dulu dikenal sebagai lady rocker Indonesia, ini memecah keheningan ruang konser Koninklijk Conservatorium di Den Haag yang bernuansa tanah Jawa di masa lalu, demikian Minister Counselor Azis Nurwahyudi kepada Antara London, Minggu.

Dikatakannya Indonesia Jazz Night 2016 dipersembahkan KBRI Den Haag, bekerjasama dengan Rumah Budaya Indonesia, di Koninklijk Conservatorium Den Haag –tempat lahirnya musisi muda dan berbakat Belanda.

Dentingan piano Dwiki Dharmawan mengiringi vokal Ita yang awalnya perlahan, lalu makin lama makin cepat dan akhirnya berubah menjadi permainan full piano jazz dalam nuansa Jawa, yang awalnya terasa kental, pun lumer. Penonton bersorak, sebagai ungkapan kagum terhadap penampilan istri Dwiki Dharmawan yang mampu menyuguhkan musik jazz secara elegan.

Karya-karyanya terdengar jelas tak meninggalkan akarnya Indonesia. Namun begitu, pianis ini juga tetap memberi peran pada tradisi jazz Barat dengan memberi sentuhan rock. Paduan Timur Barat yang diramu ini pada akhirnya menghasilkan musik, yang bisa diberi label sebagai musik world jazz.

Pada penampilannya Dwiki Dharmawan didampingi pemusik andal seperti Adi Darmawan (bass), Agam Hamzah (gitar), Demas Narawangsa (drum) dan Ade Rudiana (kendang Sunda). Empat bintang tamu turut menyempurnakan konser seperti Dewa Budjana (gitar), Aning Katamsi (soprano), Ita Purnamasari (vokal) dan Yarra Arnes (vokal).

Aning Katamsi adalah penyanyi seriosa Indonesia yang memiliki karakter vokal sopran. Di panggung Indonesia Jazz Night 2016, wanita yang pernah menuntut ilmu di Conservatorio di musica Giuseppe Verdi, Milan, Italia, ini membawakan lagu Melati Suci karya Guruh Sukarnoputra yang membawa suasana konser musik klasik, sementara penampilan Yarra Arnes kembali ke masa muda yang penuh keceriaan, lewat lagu-lagu ciptaannya sendiri. Sementara itu, lewat petikan gitarnya dalam lagu Gangga yang melodius, Dewa Budjana mengisahkan perjalanannya ke negeri Taj Mahal.

Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan Indonesia Jazz Night, menurut rencana akan digelar tiap tahun, ditujukan untuk mempromosikan musik Indonesia kontemporer kepada khalayak Belanda yang selama ini dikenal dengan musik-musik tradisionalnya, seperti angklung dan gamelan. “Kami tidak melupakan musik dan budaya tradisional Indonesia, dan akan tetap mempromosikan musik tradisional,” ujarnya,

Menurut Dubes, KBRI juga tengah mempersiapkan bentuk seni baru yang modern agar bisa memainkan peran dalam hubungan Indonesia – Belanda.

Dubes Wesaka Puja berharap, pergelaran malam hari ini bisa menginspirasi Anda semua untuk mengenal Indonesia lebih jauh. Tidak hanya Indonesia sebagai negara yang perekonomiannya sedang bertumbuh. Tidak hanya negara yang memiliki banyak tempat wisata indah. Tapi, juga sebagai rumah seni dan budaya yang hidup.

Pertunjukan Indonesia Jazz Night dibuka oleh Pota2 Band, yang tampil membawakan tiga lagu. Band pengusung musik jazz ini beranggotakan delapan mahasiswa Indonesia, yang sedang menuntut ilmu di Belanda. Salah satu anggota band ini, Christoffer Nellwan, adalah seorang aktor film Indonesia, yang antara lain bermain dalam film Laskar Pelangi, Habibie dan Ainun, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, dan Athira.

Selama dua malam penyelenggaraan, Indonesia Jazz Night 2016 dihadiri sekitar 750 orang dari berbagai kalangan

masyarakat Belanda, warga negara Indonesia di Belanda, mahasiswa, musisi, mitra kerja Indonesia dan pers. Selain itu juga hadir sejumlah pejabat Belanda serta Dubes negara-negara sahabat, di antaranya Duta Besar Malaysia, Belgia, Denmark, Rumania, Chile, serta Wakil Duta Besar Tunisia.

Sambutan hadirin begitu antusias menyaksikan sajian para musisi jazz andal Indonesia malam itu. Standing ovation pun tak hanya sekali dipersembahkan hadirin, beberapa kali usai penyajian komposisi musik yang apik dan elegan, para penonton berdiri dan bertepuk tangan sebagai ungkapan apresiasi mereka terhadap apa yang baru saja mereka nikmati.

“Saya tidak menyangka Indonesia punya musisi yang sangat bagus dan berbakat,” ujar Ingrid de Kooster. Perempuan asal Middelburg pun ini berharap masih akan ada lagi penampilan musisi Indonesia berbakat lainnya di Negeri Belanda.

Kekaguman terhadap penampil Indonesia Jazz Night 2016 tidak hanya ditunjukkan Ingrid. Usai pertunjukan, ratusan penonton dengan sabar menunggu giliran berfoto dan berbincang dengan para musisi, yang berjajar di depan pintu masuk ruang pertunjukan untuk mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka malam itu.

Editor: Ruslan Burhani